Ketika saya mendengar
penjelasan bahwa hanya sedikit orang yang bisa bersyukur, maka pikiran
saya bertanya-tanya. Apa susahnya bersyukur itu. Bukankah cukup mengucapkan
kalimah alhamdulillah, yaitu segala puji bagi Allah. Apa beratnya bagi
seseorang yang merasakan kenikmatan lalu segera memuji kepada sang pemberinya.
Dzat yang maha pemberi itu, diakuinya adalah Allah. Mengapa itu sulit
dilakukan, hingga orang yang melakukannya itu menjadi sedikit.
Akan tetapi kemudian,
setelah melakukan perenungan mendalam, ternyata memang sekedar bersyukur
itu tidak mudah. Penghalangnya adalah pada perasaan diri
sendiri, dan bukan pada orang lain. Mengatur perasaan itulah yang ternyata tidak
mudah. Banyak orang mampu mengatur wajahnya, rambutnya, badannya, hingga
menjadi kelihatan cantik atau tampan tetapi ternyata gagal tatkala harus
mengatur atau menata perasaan atau hatinya sendiri.
Bersyukur adalah bagian
dari keberhasilan mengatur perasaan itu. Sabar, ikhlas, tawakkal, dan lain-lain
adalah urusan hati atau urusan perasaan. Dan ternyata, mengurusnya
memang tidak mudah. Boleh saja orang menyuruh orang lain agar bersyukur, sabar
dan ikhlas, tetapi dirinya sendiri juga tidak bisa menjalankannya. Banyak orang
tidak lulus tatkala menjalani ujian kesabaran, keikhlasan, dan keharusan
bersyukur.
Saya pernah datang
bertakziyah ke rumah seorang kyai yang sedang ditinggal mati anaknya,
karena kecelakaan. Di daerah itu, kyai ini selalu diminta berceramah untuk
memberi nasehat, termasuk ketika terdapat keluarga yang sedang terkena musibah
kematian. Tentu tatkala berceramah di keluarga yang terkena musibah itu,
kyai menjelaskan tentang pentingnya kesabaran dan keikhlasan. Bahwa
segala sesuatu adalah milik Allah dan pada saatnya kemudian akan kembali. Kyai
ini faham betul tentang bagaimana seorang muslim seharusnya menyikapi kematian
atau musibah.
Akan tetapi, ketika
musibah itu datang kepada dirinya sendiri, ternyata kyai dimaksud gagal menata
hatinya. Apa yang menimpa pada anaknya, ia tidak bisa menerimanya. Seperti
orang yang tidak mengerti ajaran Islam, ia menyalahkan banyak orang yang
menyebabkan anaknya mengalami kecelakaan itu. Siapapun disalahkan,
apalagi bus yang menabrak anaknya itu. Ketika saya mencoba untuk bersabar
dan ikhlas ditolak olehnya. Ajakan saya itu dibantah, agar saya tidak
menyebut kata-kata sabar dan ikhlas. Dia mengatakan sudah tahu tentang itu,
tetapi ia mengaku berat mendengarkannya.
Kasus tentang kegagalan
menata hati yang serupa dengan kisah tersebut adalah sebagai berikut.
Seseorang yang semasa kecil menderita karena kekurangan, bercita-cita untuk
memperbaiki keadaannya di masa depan. Cita-citanya itu berhasil, dan bahkan
melebihi apa yang sejak semula diharapkan. Jenjang pendidikan tertinggi diraih,
berhasil mendapatkan posisi terhormat di tempat kerjanya, memiliki
rumah, kendaraan, dan bahkan bersama keluarganya telah menjalankan ibadah
haji. Sebagai orang yang dahulu mengalami serba kekurangan, keberhasilan
itu tidak terbayangkan sebelumnya. Namun ternyata, semua itu bisa
diraih dalam hidupnya.
Pertayaannya adalah,
apakah keberhasilan tersebut berhasil disyukuri ? Tentu tidak ada orang yang
tahu, kecuali Tuhan sendiri. Akan tetapi dari tanda-tanda yang bisa ditangkap,
bahwa ternyata bukti-bukti kesyukuran itu sangat sulit dicari. Ia kelihatan
belum merasa puas dengan apa yang telah diterimanya. Justu yang terdengar dari
yang bersangkutan adalah mengeluh, merasa hidupnya belum berhasil, dan
masih berkekurangan. Ia gagal bersyukur, termasuk berterima kasih kepada
teman-teman yang selama ini membantunya. Rupanya ia merasa bahwa
keberhasilannya itu adalah atas dasar kekuatannya sendiri. Seolah-olah orang
lain tidak pernah terlibat. Kalaupun terlibat dipandang sebagai kewajiban orang
lain yang harus diterima olehnya.
Kasus-kasus serupa itu
jumlahnya banyak sekali, sehingga sangat mudah ditemui di mana-mana. Persoalan
itu sebenarnya menyangkut tentang bagaimana menata perasaan atau
hati. Tugas itu ternyata bukan persoalan mudah. Sementara orang
mengatakan bahwa, dalam soal menata hati tidak ada sekolahnya. Orang bisa saja
sekolah dan akhirnya mampu menciptakan teknologi modern, seperti pesawat
terbang, teknologi informasi, alat perang yang canggih, dan lain-lain. Akan
tetapi ternyata, belum tentu yang bersangkutan mampu menata
hatinya. Demikian pula, banyak orang berhasil meraih gelar Doktor,
tetapi belum tentu lulus tatkala harus menata hatinya sendiri.
Menata hati agar bisa ikhlas,
sabar, dan bersyukur ternyata tidak mudah. Orang yang sudah berhasil meraih
jabatan puncak dalam sebuah organisasi, mengumpulkan harta kekayaan
hingga sulit menghitungnya, mendapatkan berbagai penghargaan dan
prestasi, belum tentu bisa menyukurinya. Oleh karena itu, telah menjadi jelas,
bahwa bersyukur itu adalah berat dan tidak mudah. Beryukur sama dengan
keberhasilan menata hati. Ternyata sedikit saja orang yang berhasil
melakukannya. Kita bisa menata kampus, menata kantor, menata kebun, menata rumah,
menata mahasiswa, menata perusahaan, dan lain-lain, namun ternyata belum
tentu berhasil mengerjakan pekerjaan yang selalu lebih berat, yaitu bersyukur
atau menata hatinya masing-masing.
Wallahu a’lam....