Selasa, 13 Desember 2016

Hujan Di Bulan Desember




Hujan sini temani anak-anak  manusia yang slalu mengharapkanmu...
Temani anak-anak  yang sedang mencari sampah karena tidak bisa sekolah...
Temani anak bangsa yang hanya bisa bermimpi tanpa ada aksi...
Temani anak jalanan yang sedang memungut sisa-sisa makanan untuk menganjal perut mereka...
Temani anak kuliah yang sedang enak-enak nya tidur karena tidak ada jam...
Temani dosen senior yang sedang berkomentar sengit karena revisi mahasiswanya tak kunjung selesai
Temani single parent yang sibuk mencari nafkah demi pendidikan anaknya...
Temani petani, pahlawan yang sedang repot mengolah sawah...
Temani anak bangsa yang punya impian, bukan mimpi...
Temani pemuda yang bahkan rela menambal jalan dengan tangannya sendiri karna tidak sanggup membayar pajak
Dan temani aku pula yang hanya sekedar menulis ulasan yang tidak terlalu penting ini.

Jumat, 30 Januari 2015

Belajar Bersyukur dan Menata Hati Kita

Ketika saya mendengar penjelasan  bahwa hanya sedikit orang yang bisa bersyukur, maka pikiran saya bertanya-tanya. Apa susahnya bersyukur itu. Bukankah cukup mengucapkan kalimah alhamdulillah, yaitu segala puji bagi Allah. Apa beratnya bagi seseorang yang merasakan kenikmatan lalu segera memuji kepada sang pemberinya. Dzat yang maha pemberi itu, diakuinya  adalah Allah. Mengapa itu sulit dilakukan, hingga orang yang melakukannya  itu menjadi sedikit. 
 
Akan tetapi kemudian,  setelah melakukan perenungan mendalam, ternyata memang sekedar bersyukur itu tidak mudah. Penghalangnya adalah pada perasaan diri sendiri, dan bukan pada orang lain. Mengatur perasaan itulah yang ternyata tidak mudah. Banyak orang mampu mengatur wajahnya, rambutnya, badannya,  hingga menjadi kelihatan cantik atau tampan tetapi  ternyata gagal tatkala harus mengatur atau menata perasaan atau hatinya sendiri.
 
Bersyukur adalah bagian dari keberhasilan mengatur perasaan itu. Sabar, ikhlas, tawakkal, dan lain-lain adalah urusan hati atau urusan perasaan. Dan  ternyata, mengurusnya  memang tidak mudah. Boleh saja orang menyuruh orang lain agar bersyukur, sabar dan ikhlas, tetapi dirinya sendiri juga tidak bisa menjalankannya. Banyak orang tidak lulus tatkala menjalani ujian kesabaran, keikhlasan, dan keharusan bersyukur.
 
Saya pernah datang bertakziyah ke rumah seorang kyai yang sedang ditinggal mati  anaknya, karena kecelakaan. Di daerah itu, kyai ini selalu diminta berceramah untuk memberi nasehat, termasuk ketika terdapat keluarga yang sedang terkena musibah kematian.  Tentu tatkala berceramah di keluarga yang terkena musibah itu, kyai menjelaskan tentang pentingnya kesabaran  dan keikhlasan. Bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan pada saatnya kemudian akan kembali. Kyai ini faham betul tentang bagaimana seorang muslim seharusnya menyikapi kematian atau musibah.
 
Akan tetapi,  ketika musibah itu datang kepada dirinya sendiri, ternyata kyai dimaksud gagal menata hatinya. Apa yang menimpa pada anaknya, ia tidak bisa menerimanya. Seperti orang yang tidak mengerti ajaran Islam, ia menyalahkan banyak orang yang menyebabkan  anaknya mengalami kecelakaan itu. Siapapun disalahkan, apalagi bus yang menabrak anaknya itu.  Ketika saya mencoba untuk bersabar dan ikhlas ditolak olehnya. Ajakan saya itu  dibantah, agar saya tidak menyebut kata-kata sabar dan ikhlas. Dia mengatakan sudah tahu tentang itu, tetapi ia mengaku berat mendengarkannya.
 
Kasus tentang kegagalan menata hati yang serupa dengan kisah tersebut  adalah sebagai berikut. Seseorang yang semasa kecil menderita karena kekurangan, bercita-cita untuk memperbaiki keadaannya di masa depan. Cita-citanya itu berhasil, dan bahkan melebihi apa yang sejak semula diharapkan. Jenjang pendidikan tertinggi diraih, berhasil  mendapatkan posisi terhormat di tempat kerjanya,  memiliki rumah, kendaraan, dan bahkan bersama  keluarganya telah menjalankan ibadah haji. Sebagai orang yang dahulu mengalami serba kekurangan, keberhasilan  itu  tidak terbayangkan sebelumnya. Namun ternyata,  semua itu bisa diraih dalam hidupnya.
 
Pertayaannya adalah,  apakah keberhasilan tersebut berhasil disyukuri ? Tentu tidak ada orang yang tahu, kecuali Tuhan sendiri. Akan tetapi dari tanda-tanda yang bisa ditangkap, bahwa ternyata bukti-bukti kesyukuran itu sangat sulit dicari. Ia kelihatan belum merasa puas dengan apa yang telah diterimanya. Justu yang terdengar dari yang bersangkutan adalah mengeluh, merasa  hidupnya belum berhasil, dan masih berkekurangan. Ia gagal bersyukur, termasuk  berterima kasih kepada teman-teman yang selama ini membantunya.  Rupanya ia merasa bahwa keberhasilannya itu adalah atas dasar kekuatannya sendiri. Seolah-olah orang lain tidak pernah terlibat. Kalaupun terlibat dipandang sebagai kewajiban orang lain  yang harus diterima olehnya.
 
Kasus-kasus serupa itu jumlahnya banyak sekali, sehingga sangat mudah ditemui di mana-mana. Persoalan itu sebenarnya menyangkut tentang bagaimana  menata perasaan atau  hati. Tugas  itu ternyata bukan  persoalan mudah. Sementara orang mengatakan bahwa, dalam soal menata hati tidak ada sekolahnya. Orang bisa saja sekolah dan akhirnya mampu menciptakan  teknologi modern, seperti pesawat terbang, teknologi informasi, alat perang yang canggih, dan lain-lain. Akan  tetapi ternyata,  belum tentu yang bersangkutan mampu menata hatinya. Demikian pula, banyak orang berhasil meraih gelar  Doktor,  tetapi belum tentu lulus tatkala harus menata hatinya sendiri. 
 
Menata hati agar bisa ikhlas, sabar, dan bersyukur ternyata tidak mudah. Orang yang sudah berhasil meraih jabatan puncak dalam sebuah organisasi, mengumpulkan harta kekayaan hingga  sulit menghitungnya, mendapatkan berbagai penghargaan dan prestasi, belum tentu bisa menyukurinya. Oleh karena itu, telah menjadi jelas, bahwa bersyukur itu adalah berat dan tidak mudah.  Beryukur sama dengan keberhasilan menata hati. Ternyata sedikit saja orang yang berhasil melakukannya. Kita bisa menata kampus, menata kantor, menata kebun, menata rumah, menata mahasiswa, menata perusahaan, dan lain-lain, namun  ternyata belum tentu berhasil mengerjakan pekerjaan yang selalu lebih berat, yaitu bersyukur atau menata hatinya masing-masing.

Wallahu a’lam....

Kisah Ayah & Anak Menemukan ‘Surga’



Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yang sedang membaca koran…
 “Ayah, ayah,” kata sang anak.

“Ada apa Nak?” tanya sang ayah.

“Aku capek, sangat capek. Aku capek karena aku belajar mati-matian untuk mendapat nilai bagus, sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek. Aku mau menyontek saja! Aku capek. Sangat capek.

Aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! Aku capek, sangat capek.

Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung. Aku juga ingin jajan terus!

Aku capek, sangat capek, karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati.

Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman- temanku, sedang mereka seenaknya saja bersikap kepadaku.

Aku capek ayah, aku capek menahan diri. Aku ingin seperti mereka yang terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah!” Begitu sedihnya, sehingga sang anak pun mulai menangis.

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata: ”Anakku, ayo ikut ayah. Ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu.” Lalu sang ayah menarik tangan sang anak, kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang. Lalu sang anak pun mulai mengeluh ”Ayah kita mau kemana sih?? Aku tidak suka jalan ini. Lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi serangga, berjalanpun susah karena ada banyak ilalang. Aku benci jalan ini ayah!” Sang ayah hanya terdiam. Mereka pun tetap berjalan terus.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu - kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? Aku suka! Aku suka sekali tempat ini!” Sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah,” ujar sang ayah. Si anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

” Anakku, tahukah engkau mengapa di sini begitu sepi? Padahal tempat ini begitu indah?”

” Tidak tahu Ayah, memangnya kenapa?”

“Itu karena orang-orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tahu ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu.”

” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya, Yah?”

”Nah, akhirnya kau mengerti”

”Mengerti apa? Aku tidak tahu apa yang harus dimengerti”

” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan,seperti jalan yang tadi. Bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga dan akhirnya semuanya terbayarkan? Ada telaga yang sangat indah, seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? Kau tidak akan mendapat apa-apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku.”

” Tapi Ayah, bersabar itu tidak mudah. ”
”Ayah tahu. Oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat. Begitu pula hidup, ada Ayah dan Ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu. Tapi ingatlah anakku, kami tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri. Maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri. Jadilah pribadi yang kuat, yang tetap tabah dan tawakkal karena kau tahu ada Tuhan di sampingmu. Maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang. Nah, kau tahu akhirnya kan?”

”Ya Ayah, aku tahu.. Aku akan mendapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini. Sekarang aku mengerti. Terima kasih Ayah, aku akan tegar saat yang lain terlempar.” Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya..

Sahabat, kita tidak tahu seberapa besar cobaan dan rintangan yang Tuhan berikan pada kita. Tapi sahabat mesti tahu, Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kekuataan hambanya. Teruslah berdo'a, tawakal dan pasrah akan kehendak-Nya karena semua telah dituliskan. Sekecil apapun amal ibadah yang kita lakukan akan dibalas beribu-ribu kali lipat, begitu juga sebaliknya. 

Jangan terlena oleh kehidupan duniawi yang semu ini, karena kita hanya hidup sementara saha dan akan kembali kepada-Nya.Tuhan Maha Mengetahui atas segalanya. Kesabaran akan membuahkan hasil yang indah. Ingat sahabat, Tuhan sangat menyukai orang-orang yang sabar.

Semoga kita semua bisa menjadi orang-orang yang sabar dan mendapat cinta-Nya.

Jumat, 11 April 2014

Ketika cinta



Di saat ku mulai lelah…
Menanti datangnya senja
Menyulam sepi merajut sunyi
Demi setetes kasih putih
Walau harus menanggung derita hati
Airmata hiasan terindah nyayian duka

Cinta adalah misteri …
Cinta adalah teka teki … 
Cinta adalah matahati ...
Cinta adalah kidung sanubari
Ketika rindu…
Bintang   dan   rembulan   adalah   fatamorgana

Ketika cinta…??

Cinta sejati membutuhkan pengorbanan
Pengorbanan adalah mutiara surga
Cinta sejati dapat mengubah takdir ilahi
Kesetiaan dapat menggugah langit dan bumi